YUK, JADI PENDAMPING MEMBACA BAGI ANAK-ANAK

YUK, JADI PENDAMPING MEMBACA BAGI ANAK-ANAKIlustrasi

Pang, 6 tahun, baru saja dibelikan buku cerita anak-anak oleh ayahnya. Seperti mayoritas orangtua lainnya, ayah Pang berharap anaknya akrab dengan buku sejak dini. Pang dibiasakan membaca supaya kelak saat dewasa ia memiliki modal pengetahuan yang cukup untuk menyokong nilai akademisnya. Sehari, dua hari, buku cerita tersebut hanya teronggok di rak, tak dijamah oleh Pang. Pasalnya, anak ini lebih gemar melakukan hal lain dibandingkan membaca.

“Pang, yuk baca buku cerita yang kemarin dibeli sama Ayah,” ujar ayah Pang.

“Nanti saja. Pang mau main dulu,” demikian si bocah membalas ayahnya tanpa melepaskan pandang dan jarinya dari komputer tablet kepunyaan orangtuanya. Kali lain, saat kembali diajak membaca, Pang lebih memilih bermain di luar bersama teman-teman sepantarnya. Ketika benar-benar meluangkan waktu untuk membaca bersama sang ayah, Pang cepat merasa bosan dan memutuskan untuk berhenti.

Kondisi seperti yang diilustrasikan ini tak jarang ditemukan oleh para orangtua. Karenanya, tidak sedikit lembaga informal yang mempromosikan jasa membantu anak yang memiliki minat membaca rendah atau mengalami kesulitan membaca. Sedari dini, minat dan kecakapan membaca memang penting ditingkatkan guna mendukung kesuksesan siswa, baik dari segi pencapaian di sekolah maupun segi interaksi sosialnya pada kemudian hari.

Sosiolog Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Badaruddin, MA berargumen bahwa minat membaca berkaitan dengan kemampuan penalaran anak. Nalar menurutnya merupakan modal utama bangsa bila ingin maju di bidang pendidikan dan bersaing dengan negara-negara lain.

Ironisnya, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca, demikian hasil studi “Most Literate Nation in the World” dari Central Connecticut State University, Maret 2016. Ada macam-macam alasan yang dipandang melandasi rendahnya minat membaca ini.

Pertama, kehadiran macam-macam teknologi mengalihkan perhatian anak-anak dari kegiatan membaca, mulai dari suguhan acara televisi sampai media sosial. Alasan lainnya, anak-anak kerap dicekoki oleh bacaan-bacaan yang tak mereka senangi, tetapi mesti mereka baca. Cara pengemasan pesan yang membosankan atau topik yang tidak menarik dalam buku kian menjauhkan anak-anak dari kebiasaan membaca. Akhirnya, mereka merasa kegiatan membaca merupakan suatu ‘paksaan’ alih-alih sesuatu yang menyenangkan dan secara sukarela mereka lakukan.

Di level pendidikan tinggi, kecakapan membaca yang rendah pun masih kerap ditemukan. Hal ini bisa disebabkan oleh kualitas memprihatinkan bacaan yang dikonsumsi pada tataran pendidikan sebelumnya. Bila saat mengenyam pendidikan dasar dan menengah mereka hanya ditawarkan bacaan-bacaan dengan tingkat kerumitan minimal, mereka tidak akan terbiasa untuk mengonsumsi bacaan-bacaan berat. Tak pelak, komentar jenuh, tidak suka, atau tidak mampu memahami tulisan jurnal ilmiah atau buku-buku teori dengan kompleksitas lebih tinggi pun sering kali didengar dari para mahasiswa.

“Saya malas baca jurnal, soalnya bahasanya rumit, apalagi jurnal-jurnal internasional,” demikian komentar mahasiswa-mahasiswa yang masih jamak ditemukan. Hal ini mengindikasikan, minat mengonsumsi bacaan, terutama yang ilmiah, juga dipengaruhi oleh penguasaan bahasa asing yang kurang terlatih.

Banyak ditemukan buku-buku teks terjemahan di pasaran, tetapi tidak semua berkualitas baik. Alih-alih mempermudah pembaca Indonesia untuk menyerap pesan dalam buku, tulisan terjemahan malah dapat makin membingungkan karena penggunaan padanan kata yang kurang tepat.

Keengganan untuk membaca buku berbahasa asing lantaran kendala bahasa ditambah kualitas buku-buku terjemahan yang memprihatinkan menjadi kombinasi ampuh dalam menurunkan kecakapan membaca. Implikasinya, modal referensi menjadi tidak optimal dan kemampuan menganalisis problem pada masa depan atau pada saat terjun di dunia profesional pun tidak cukup terasah.

Menyadari kendala dalam membaca sering ditemukan pada anak-anak usia sekolah, inisiatif pun dilakukan oleh sebuah lembaga nonprofit di AS, AmeriCorps. Reading Partners merupakan program yang bertujuan mengembangkan kecakapan membaca anak-anak dengan menggalang kekuatan komunitas dan sukarelawan. Sasaran mereka adalah anak-anak dari latar belakang keluarga berekonomi menengah ke bawah.

Dituliskan dalam Education Week, program Reading Partners telah mendatangkan dampak positif bagi siswa-siswa yang difasilitasi. Setelah mengikuti program ini selama enam bulan sampai dua setengah tahun, mereka yang kecakapan membacanya di bawah orang rata-rata telah menunjukkan peningkatan kemampuan, bahkan melebihi ekspektasi untuk anak-anak sepantarannya.

Bukan hanya program semacam Reading Partners saja yang bisa memompa kemampuan membaca siswa. Di sekolah, program tutor membaca antarsiswa pun dapat dilakukan, demikian saran dari National Educational Psychological Service (NEPS). Tutor yang dipilih merupakan sesama siswa dengan pautan usia 2 tahun di atas pembelajar.

Penekanan program ini adalah pada pentingnya kemitraan dalam membaca dengan melibatkan rekan berlatar belakang serupa, yakni sesama siswa. Tentunya, belajar atau membaca dengan sesama siswa memberikan efek berbeda bagi si pembelajar. Sifat hierarkis yang ditemukan ketika siswa membaca dengan guru atau orangtua dapat menciptakan tekanan tersendiri, lain halnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang yang tak jauh usianya dengan siswa.

NEPS menjabarkan, partisipasi dalam program partner membaca memberikan keuntungan tidak cuma bagi si pembelajar, tetapi juga bagi sang tutor. Pasalnya, menjadi seorang tutor mampu mendorong rasa percaya diri serta peningkatan penilaian diri seorang siswa. Sikap positif terhadap kegiatan membaca juga juga dapat tercipta dari program semacam ini.

Selain itu, kecakapan membaca baik tutor maupun pembelajar secara bersamaan dapat terdongkrak. Saat mendampingi si pembelajar, sang tutor akan termotivasi untuk menguasai bahan yang diajarkan, seiring dengan si pembelajar yang kian cakap dalam membaca.

Bagaimana dengan upaya meningkatkan minat membaca di Indonesia?

Sejumlah inisiatif telah dilakukan di beberapa tempat untuk memperbaiki kondisi literasi anak-anak di negeri ini. Mahasiswa-mahasiswa Universitas Padjajaran, Bandung, misalnya, membuat program Perpustakaan dan Kegiatan Mendongeng Keliling (Puskamling) sejak April 2017 lalu di Desa Nanggerang, Jatinangor. Kondisi perpustakaan di daerah tersebut dapat dikatakan memprihatinkan, baik dari segi penyediaan fasilitas maupun jumlah pengunjung yang datang.

Sekelompok mahasiswa ini pun melakukan observasi ke perpustakaan desa untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang menyebabkan sepinya pengunjung. Dari hasil observasi ditemukan, tata letak buku yang berantakan, kondisi rak yang kotor, serta ruangan yang kurang nyaman untuk membaca.

Dari situlah mereka berinisiatif membuat Puskamling di Desa Nanggerang. Selain meningkatkan minat baca, Puskamling juga dibentuk untuk melestarikan kegiatan mendongeng di kalangan anak muda. Keterlibatan aktif dari kelompok mahasiswa inilah yang berperan besar mengubah situasi literasi anak-anak.

Bagi anak-anak level pendidikan dasar atau remaja, sekadar menyediakan buku untuk mereka baca tentunya tidak cukup. Mereka juga butuh teman atau lingkungan yang mendukung untuk membiasakan diri membaca. Bagaimana anak bisa rajin membaca dan memiliki kemampuan bernalar atau analisis yang baik, jika orangtuanya tak mempraktikkan kebiasaan serupa dalam keseharian?

Edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya literasi tidak terbatas untuk anak saja, tetapi juga orang-orang dewasa di sekitar mereka. Anak, sebagaimana kita tahu, adalah peniru polah tingkah di sekitarnya.

sumber : tirto.id

COMMENTS