Waspadai “Usia Gang” Anak Remaja Anda

Waspadai “Usia Gang” Anak Remaja AndaIlustrasi

SAHABAT KELUARGA- Dalam banyak kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dibawah umur, dan juga sebenarnya terhadap perempuan dewasa, pelaku umumnya berusia remaja, bahkan ada yang dibawah umur, dan tindakan tak bermoral itu dilakukan secara berkelompok.

Nah, soal kegemaran remaja berkelompok sebenarnya bukan hal yang aneh. Fenomena anak-anak remaja gemar berkumpul di sembarang tempat tanpa tujuan yang jelas, atau sekadar menghabiskan waktu, banyak ditemui di berbagai daerah. Tak hanya kota besar, namun juga di desa-desa.

Dikutip dari www.antaranews.com, Elizabeth B Hurlock, seorang pengajar psikologi perkembangan di School of Education, Pennsylvania University, Amerika Serikat, menyebutkan, anak remaja pada rentang usia 13-17 tahun yang masuk ke dalam masa remaja awal, memang masuk ke dalam apa yang disebut dengan “usia gang”.

Dalam masa itu, kesadaran sosial berkembang pesat. Menjadi pribadi yang sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini. Menjadi anggota suatu kelompok teman sebaya secara bertahap menggantikan keluarga dalam memengaruhi perilaku si anak.

Nah, agar perkembangan mental dan perilaku si anak tumbuh dengan baik, maka kecenderungan untuk berkelompok itu harus diikuti dengan bagaimana menemukan kelompok yang benar dan positif.

Kunci dari itu adalah penanaman nilai-nilai keluarga sejak kecil. Nilai-nilai yang ditanamkan saat kecil sangat mempengaruhi pandangan dan sikap serta pola pikir anak itu hingga ia dewasa nantinya.

“Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak belajar mengenai nilai-nilai dasar seperti pengenalan norma agama, norma sopan santun dan norma kesusilaan, “kata Hurlock.

Sayangnya hingga saat ini tidak semua orang tua memahami pentingnya situasi dan pendidikan di rumah bagi masa depan anak-anak mereka.

Dalam beberapa kasus, orang tua tidak menghiraukan dampak jangka panjang atas keputusan mereka kepada anak dan sekadar mempertimbangkan kebahagiaan anak dengan memenuhi permintaan mereka atas apapun.

Seperti keputusan yang memberikan keleluasaan anak untuk bermain tanpa mempertimbangkan pengaturan jam bermain dan tidak memperhatikan lingkungan anak bermain serta berkelompok.

Demikian juga keputusan orang tua untuk memberikan fasilitas atau hak anak tanpa memperhatikan peraturan yang ada. Contoh sederhananya mengizinkan anak-anak di bawah umur 16 tahun mengendarai sepeda motor.

Akibat dari itu semua, tak jarang kita melihat banyak anak-anak di bawah 16 tahun mengendarai motor bahkan digunakan untuk berangkat sekolah selayaknya mereka menggunakan sepeda tanpa mengindahkan peraturan lalu lintas.

Selain itu kita juga kerap melihat anak-anak di bawah umur menggunakan motor, berkelompok dengan teman-temannya di sejumlah lokasi di pinggir jalan bahkan hingga jauh malam, melebihi kepantasan seorang anak seharusnya berada di luar rumah.

Kondisi tersebut bisa mendorong peluang terjadinya kekerasan pada anak. Yanuar Jatnika

Sumber: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS