Tantrum dan Marah, Begini Membedakannya

Tantrum dan Marah, Begini MembedakannyaIlustrasi anak tantrum/ Foto: Thinkstock

Saat anak cemberut karena mainannya direbut temannya ini termasuk marah atau tantrum? Lalu saat anak nagis sambil berguling-guling di minimarket karena kita tidak membolehkannya membeli permen, ini tantrum atau marah?

“Dalam tantrum ada marah. Tapi saat anak marah, belum tentu tantrum. Tantrum itu perilaku, sementara marah itu emosi,” jelas psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi.

Tantrum merupakan letupan kekesalan atau kemarahan anak karena dirinya belum bisa menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya dengan baik, dan lingkungan tidak bisa memahami keinginannya. Tantrum adalah hal yang wajar dialami anak sejak umur menjelang dua tahunan dan akan mereda atau hilang seiring pertambahan usianya dan perkembangan kemampuan komunikasinya.

Sedangkan marah adalah emosi. Emosi dasar manusia yang dikenal ada empat yakni bahagia, sedih, marah dan takut.

“Usia 1-2 tahun itu bisa mengalami tahapan terrible twos. Itu memang usia tantrum. Normal muncul ketika mereka sulit mengekspresikan apa yang ada dalam benaknya,” sambung Ratih.

Di usia menjelang dua tahun, umumnya anak sudah bisa lebih aktif bergerak sendiri, dan kosakatanya pun sudah bertambah. Namun terkadang mereka baru menyadari bahwa mereka tidak bisa bergerak secepat yang diinginkan atau mengomunikasikan dengan baik apa yang diinginkan. Hal ini membuat anak-anak frustasi sehingga memunculkan perilaku tantrum.

Saat anak tantrum, Ratih menyarankan untuk tidak memarahi anak. Namanya anak-anak, pada saat dimarahi, tangisnya akan semakin menjadi. Ya, pasti sangat kesal ya, Bun. Apalagi bila terjadi di tempat umum. Duh, pasti malu banget.

Meski mengesalkan, namun cobalah untuk tetap tenang dalam menghadapi anak yang sedang tantrum. Cobalah membatasi untuk mengatakan ‘tidak’, dan lakukan pengalihan agar anak lupa pada apa yang membuatnya frustasi.

Nanti, saat anak sudah lebih tenang, kita bisa menjelaskan pada anak bahwa kita tidak mengerti apa yang dia inginkan jika dia memintanya dengan menangis. Kita juga perlu menjelaskan jika penyebab tantrumnya karena kita tidak memenuhi permintaannya, itu karena ada aturan di dalam keluarga yang harus dipatuhi bersama. Jangan lupa, pujilah si kecil saat mereka berbuat sesuatu yang baik. Dengan demikian anak akan mengingat hal-hal baik yang harus dilakukannya.

Senada dengan Ratih, psikolog Anna Dauhan juga mengatakan tantrum itu wajar sampai anak berusia sekitar sampai empat tahun. Biasanya di atas usia empat tahun, kemampuan kognitif anak lebih berkembang dan lebih mampu mengekspresikan diri dengan lebih baik dan lebih tepat.

“Sebaliknya kalau saat tantrum dia nggak ada yang membimbing, dia akan mengulanginya lagi. Dalam jangka panjang akan terus diulang sampai dia mendapatkan respons yang dia inginkan,” ujar Anna.

Kata Anna, saat anak tantrum, memang ada baiknya membiarkan dulu mereka menangis dan berteriak-teriak. Sebab dengan begini, anak akan melepaskan energinya. Setelah energi marahnya berkurang, kita bisa memeluk dan menenangkannya.

“Membiarkan menangis ini bukan karena kita apatis. Kita tetap ada di sebelah anak, mendampingi dia. Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang berbahaya juga kan. Mendampingi dia sampai tenang,” tambah Anna.(vit/vit)

 

Sumber : haibunda.com

COMMENTS