Pola Asuh Demokratis Hindarkan Remaja dari Perilaku Seks Pranikah

Pola Asuh Demokratis Hindarkan Remaja dari Perilaku Seks PranikahIlustrasi

Setiap orang tua tentunya berharap agar anak-anaknya menjalani kehidupan seks secara sehat dan normal, dalam arti kata melakukan hubungan seks dengan pasangan resmi dan setelah menikah.

Namun, pergaulan sosial, sikap atas nilai-nilai yang dipunyai remaja, apalagi arus globalisasi kemajuan teknologi dan informasi saat ini membuat banyak remaja melakukan perilaku seks pranikah.

Berdasarkan hasil penelitian Aguma, Dewi dan Karim (2013) kepada 177 remaja di Jakarta,  terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja. Hasil penelitian itu menunjukkan, remaja yang berperilaku seksual secara sehat mempunyai orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis, yakni memprioritaskan kepentingan anak akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka.

Sebaliknya, remaja yang berperilaku seksual beresiko, yakni melakukan hubungan seks pranikah, umumnya diasuh orang tua yang menerapkan pola asuh penelantar, orang tua dan anaknya memiliki interaksi waktu yang sedikit. Penelitian lain, semakin otoriter pola asuh orangtua, maka perilaku seksual remaja akan semakin tinggi.

Sejalan dengan itu, Baumrind (2004) mengatakan bahwa perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh para remaja lebih cenderung disebabkan terlalu longgarnya pengawasan dan aturan aturan yang diterapkan oleh orang tua. Remaja akan cenderung terjerumus ke dalam perilaku seksual pranikah manakala adanya pengawasan yang kurang dari orangtuanya.

Kebanyakan orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi seks dan kesehatan reproduksi pada remaja, sebab mereka takut hal ini justru meningkatkan terjadinya perilaku seks pranikah. Padahal anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua cenderung berperilaku seks lebih baik daripada anak yang mendapatkan dari oranglain.

Dewasa ini, di  masyarakat, terutama yang ada di perkotaan menunjukan kecenderungan yang cukup positif terutama terhadap pola asuh demokratis yang diterapkan dalam memperlakukan anak-anaknya. Orangtua sekarang tidak lagi menerapkan aturan secara kaku, atau memaksa anak melakukan hal yang tidak disukai sehingga komunikasi dengan anak semakin terbuka (Prayitno, 2007). Adanya kecenderungan yang cukup positif pada masyarakat perkotaan untuk penerapan pola asuh demokratis inilah yang diharapkan dapat menurunkan tingkat perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja. Yanuar Jatnika

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS