NGAMBEK SAMA PAPA, BAIK-BAIKIN MAMA

NGAMBEK SAMA PAPA, BAIK-BAIKIN MAMA

Konflik “segitiga” seperti ini membutuhan trik khusus untuk menyelesaikannya supaya kebiasaan pro sana-pro sini tidak terus berlanjut.

Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil kalau Raysa (9) ngambek dengan mamanya, dia akan baik-baikin papanya, begitu juga sebaliknya. Deni (40) dan Reni (36) sudah paham betul kebiasaan putri sulungnya itu. Sisi baiknya, Rasya tidak pernah ngambek lama, paling satu-dua jam sudah baik lagi. Seringnya ia ngambek karena dilarang main komputer terlalu lama atau disuruh membereskan kamarnya yang berantakan. Khas anak–anak! Malah seringnya kalau pas baik–baikin mama, Reni “memanfaatkannya” untuk meminta Rasya melakukan sesuatu yang selama ini ditunda-tunda, misalnya potong rambut. Biasanya kalau lagi pro-mama seperti itu, apa saja yang dimintanya akan dilakukan.

MENINGKATNYA EGO

“Wah, kok sama banget ya dengan anak saya?” Mungkin begitu komentar Anda membaca cerita di atas. Tidak aneh memang, sebab apa yang dialami Raysa sejalan dengan perkembangan dengan psikolog anak usia ini. Dengan kata lain, anak–anak sebayanya akan mengalami hal serupa. Di usia ini anak sedang berada pada tahap perkembangan sense of industry yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya “ego” atau sense of self, yang terbentuk dari gabungan persepsi diri dengan pengalaman yang mereka hadapi sehari–hari.

Pada masa ini pula, will power anak makin meningkat seiring dengan meningkatnya rasa percaya diri sekaligus need for exploration, need for independency and need for individuation (menjadi diri sendiri dan tidak disetir oleh orangtua). Kemandirian dan rasa percaya diri yang makin besar ini membuat anak makin “ogah” dikekang dalam kehidupan yang serba teratur, ter-protect, termonitor, dan terkontrol.

Apalagi kalau orangtua memintanya melakukan sesuatu yang terkait dengan kewajiban, besar kemungkinan anak akan menolak karena di usia ini kontrol dirinya dikendalikan oleh need for pleasure (bermain dan bermalas–malasan). Ujung–ujungnya ya itu tadi, ngambek!
Lalu, apa yang membuatnya jadi membaik–baiki salah satu orangtua? Sebenarnya anak usia ini sedang serba bingung, antara ingin mencoba sendiri, ingin membuktikan (pada diri sendiri dan orang lain) kemampuannya sekaligus masih menyimpan ketakutan yang besar akan kegagalan. Kekurangpedean inilah yang membuatnya masih butuh figure orang dewasa untuk “membantunya” menyelesaikan masalah manakala pilihan sikap yang diambilnya kurang tepat. Contoh paling mudah, kalau ia ngambek dengan mamanya, ia khawatir tidak mendapat uang jajan; dalam anggapannya kalau pro-papa, masalah itu bisa terselesaikan.

JADI PENENGAH

Berada dalam “konflik segitiga” seperti itu tentu membutuhkan trik khusus untuk menyelesaikannya. Jangan sampai kebiasaan pro sana-pro sini itu terus berlanjut. Apa yang bisa dilakukan orangtua?

· Menjadi penengah

Orang tua harus bisa bersikap sebagai penengah. Jangan memperuncing permasalahan dengan menunjukkan sikap seakan–akan papa/mamanya pro dengan pilihan sikap anak. Ini kurang bijak. Apalagi kalau hal itu diungkapkan secara terbuka, ”Papa kenapa sih sama anak sendiri aja ngomel–ngomel terus? Biarin aja main komputer sebentar, kok enggak bisa lihat anak seneng.” Yang seperti ini, bila didengar anak akan membuatnya merasa di atas angin. Anak juga tidak akan menyadari kesalahannya.

· Bersatu sikap

Orangtua harus satu sikap dalam menetapkan peraturan di rumah. Sebelum pukul 17.00 anak sudah harus mandi, misal, kesepakatan itu menjadi peraturan bersama, mau papa atau mamanya, pasti akan mengingatkan kalau sampai waktu tersebut ia belum mandi. Dengan begitu anak tidak melihat ada celah yang bisa “dimanfaatkan”, perkataan seperti, “Ah, papa enggak ngomel kok kalau aku belum mandi, mama aja yang selalu begitu,” dijamin tak akan terlontar kalau ayah dan ibu seia-sekata menegakkan aturan di rumah.

· Biasakan berdialog

Jadikan dialog sebagai kebiasaan bersama di rumah untuk menyelesaikan masalah, bukan dengan cara ngambek. Hal ini harus dimulai dari orangtua dulu, kalau orangtua sedang berselisih pendapat dan selalu ditutup dengan acara ngambek, anak pasti mencontoh.

Tegaskan bahwa ngambek tidak menyelesaikan persoalan, apalagi cuma manyun dan diam, orang–orang tidak akan mengerti apa yang terjadi dan apa yang diinginkannya. Tak demikian dengan mengungkapkannya secara terbuka, ada solusi yang bisa dicari bersama.

Tunjukkan bagaimana cara mengungkapkan perasaan tanpa marah–marah, menangis, cemberut, tapi dengan emosi yang tenang sehingga orang lain bisa menangkap maksud perkataannya dengan baik. Ini sekaligus bermanfaat bagi anak untuk belajar menyelesaikan konflik dengan siapapun.

Intinya, ketika anak ngambek dan mencari ”backing” jangan dibiarkan. Saat anak sudah tenang, jelaskan padanya mengapa orangtua harus bersikap seia- sekata. Pesannya harus sampai, yakni sekalipun orangtua sepakat menghentikan kesenangannya/mengingatkan kewajibannya dan tidak ada yang bersedia menjadi backing, bukan berarti orangtua tidak menyayanginya.

Ini penting, karena kalau terus dibiarkan relasi yang tidak sehat (anak sering ngambek dengan salah satu orangtua lalu mencari pembela) dalam jangka panjang akan muncul masalah lebih besar. Setelah anak menginjak usia remaja akan lebih sulit lagi bagi orangtua untuk menanganinya.
Kalau orangtua tidak tahu/tidak merasa melakukan sesuatu yang membuat anak ngambek, tetap saja harus peka dengan “sinyal” yang dikirim anak, contoh, ia jadi mengurung diri di kamar, tidak mau makan, menunjukkan muka cemberut, galak ke adik/mbak, dan sebagainya. Tak perlu membujuk/ menanyainya saat itu. Tunggu sampai keadaan lebih tenang, baru ajak anak bicara. Yang penting, masalahnya segera clear, kalau bisa di hari yang sama.

Sumber : kancilku.com

COMMENTS