Merespons Tindakan ’Ajaib’ Balita

Merespons Tindakan ’Ajaib’ BalitaSofia Harman, 3, menyelamatkan ibunya Patricia setelah menelpon 999 saat ibunya terjatuh di rumah.

SAHABAT KELUARGA – Tiba-tiba balita Anda melempar mangkuk kesayangan ketika diminta menghabiskan makanannya. Atau dia berteriak kepada Anda karena tidak bisa menemaninya menonton televisi. Apakah Anda sering mengalaminya dan merasa frustrasi?

Anda tidak sendiri. Karena dari segi perkembangan, perilaku yang membuat emosi kita meningkat tajam ini, adalah sesuatu NORMAL. Bahkan menunjukkan satu perkembangan penting yang dicapai. Inilah saatnya mengajari balita Anda cara mengelola emosinya, mengatasi frustrasi dan kekecewaan.

Jangan berpikir mereka manipulatif atau sengaja membuat kita emosi. Jika begitu kemungkinan reaksi kita adalah marah atau ingin melakukan tindakan yang keras. Namun, jika kita melihatnya sebagai sebuah tahap perkembangan yang normal, kita akan lebih berempati, sehingga lebih efektif dalam mengajarkan kemampuan mengelola emosi.

Ingatlah beberapa hal berikut jika Anda menghadapi kelakuan ajaibnya:

1. Anak-anak cenderung dikendalikan emosi, tidak logis, sehingga tindakan ’ajaib’ mereka adalah normal. Balita tidak memiliki pemahaman tentang waktu, mereka hidup dan bereaksi saat itu juga. Mereka tidak bisa mengontrol diri. Mereka ingin mendapatkan apa yang diinginkan saat itu juga. Tidak mengenal ”nanti, sebentar, atau besok”.

2. Balita semakin menyadari bahwa mereka adalah makhluk hidup yang terpisah, yang memiliki pemikiran dan perasan berbeda dari orang lain. Ketika mereka masih ingin tidur sekamar dengan Anda, padahal Anda sudah melarangnya, mereka tahu. Tonggak kognitif barunya ini, ditambah dorongan bawah sadarnya untuk mengendalikan dunianya, membuatnya berusaha sangat keras untuk membuat Anda mengikuti pemikirannya. Mereka sangatlah cerdas dan mencoba semua taktik. Misalnya, memanggil nama Anda, mengancam untuk terjaga semalaman atau mengamuk sambil menggedor-gedor pintu. Inilah yang sering disebut sebagai tindakan manipulatif bagi beberapa orang tua.

3. Balita memiliki perasaan yang kuat tetapi mereka tidak mengetahui cara mengelolanya. Bahkan banyak orang dewasa masih berusaha memahami perasaan mereka dan bereaksi dengan cara yang sehat. Berpikirlah dari sudut pandang balita Anda.

Jadi apa yang harus dilakukan orang tua?

Tetaplah berkepala dingin ketika emosi anak di luar kontrol.

Mengelola emosi dan reaksi Anda merupakan kunci pengasuhan terpenting. Ketika orang tua reaktif dan emosional akan membuat anak sedih dan kebingungan. Mereka membutuhkan Anda tetap waras dan rasional saat mereka kehilangan kontrolnya, .

Ingatlah bahwa Anda tidak bisa membuat anak melakukan apapun.

Termasuk tidur, makan, buang air, berbicara atau menghentikan ledakan kemarahannya. Yang bisa Anda kendalikan adalah bagaimana respons Anda terhadap tindakan mereka. Inilah yang akan memandu dan membentuk sikap mereka. Jika teriakan mereka menghasilkan waktu tambahan untuk main gadget, waktu tidur lebih larut atau mendapatkan perhatian Anda, balita Anda menangkap pesan, ”Strategi yang bagus! Lain kali lakukan lagi.”

Ini bukanlah manipulasi. Ini perhitungan yang pintar. Artinya Anda membesarkan seorang anak yang cerdas. Dia menemukan cara sukses untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tugas kitalah untuk mengajarkan mana strategi yang efektif, mana yang tidak.

Tunjukkan empati dan akui perasaannya.

”Aku tahu kaos biru adalah kesukaanmu dan kamu kecewa tidak bisa memakainya hari ini, tetapi kaosnya sedang dicuci.” Bukan perasaannya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana mereka menyikapinya. Semakin Anda mengakui perasaannya, semakin sedikit mereka bertingkah karenanya.

Tetapkan batasan dan sediakan pilihan yang bisa diterima.

”Pilihanmu hari ini adalah kaos merah atau hijau.” Jika anak menolak pilihan Anda, maka pastikan mereka tahu bahwa Anda yang akan memilih. Dia mungkin akan melempar kaosnya. Namun, selembut yang Anda bisa, pakaikan kaosnya dan menjauhlah, sehingga dia belajar konsekuensi dari tindakannya. Dengan mengalami hasil dari pilihan mereka dan menilai apa yang membuat mereka mendapatkan yang diinginkan dan yang tidak, membuat mereka belajar memilih yang benar.

Jika teriakannya membuat Anda mengambil kaos biru dari tempat cucian, Anda:

  • Memberikan harapan palsu bahwa dia akan mendapatkan semua yang dia inginkan, membuatnya lebih sulit untuknya belajar menjadi fleksibel dan menerima alternatif, sebuah kemampuan bertahan hidup di dunia
  • Membuatnya berpikir bahwa ledakan kemarahan atau penolakan bekerja sama merupakan sebuah strategi sukses, yang bisa diandalkan
  • Mengomunikasikan bahwa Anda pikir dia tidak mampu mengatasi kekecewaan, kesempatan mengalami bahwa dia bisa bertahan dengan memakai kaos yang berbeda, hilang.

Hindari meminimalisir atau membuat anak melarikan diri dari perasaannya.

Meski ini reaksi yang normal. Kita ingin membuat perasaan yang buruk itu pergi. ”Jangan sedih. Kamu akan melihat Arman besok.” Namun perasaan itu tidak pergi. Itu harus diekspresikan. Mengenali perasaan kuat anak membuka pintu untuk menolong mereka belajar bagaimana mengatasinya. ”Kamu sedih Arman harus pulang. Kamu senang main dengannya. Ayo pergi ke jendela dan melambaikan tangan. Lalu kita buat rencana kapan bisa segera bertemu dia.” Ketika perasaan diminimalisir atau dihindari, mereka seringkali diekspresikan dengan kata atau tindakan agresif. Atau ketika dipendam akan membuat anak-anak gelisah atau depresi.

Ajarkan bagaimana mengatasinya.

Jika anak 18 bulan marah karena waktu bermainnya habis, ajak untuk menghentak-hentakkan kakinya sekeras yang dia bisa atau menggambar kemarahannya dengan crayon merah.

Bantu anak 2 tahun yang frustrasi karena tidak bisa memasukkan bola ke keranjang dengan mencari cara lain atau sudut lemparan yang baru.

Bawa anak 3 tahun yang takut memulai sekolah barunya, untuk mengunjungi kelas sehari sebelumnya. Dia bisa bertemu gurunya dan bermain di tempat bermain, sehingga membuat tempat yang asing menjadi akrab. (Anggi – Ibu rumah tangga)

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS