Mengenal Terapi Bermain untuk Anak Usia Dini | Part 2

Mengenal Terapi Bermain untuk Anak Usia Dini | Part 2Foto : Istimewa

SAHABAT KELUARGA – Tujuan play therapy atau terapi bermain yang di pusatkan pada anak antara lain adalah untuk menyehatkan kondisi emosi anak (kontrol terhadap diri), meningkatkan konsentrasi, penguasaan diri sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, bertanggung jawab, mandiri dan bisa menjadi pengambil keputusan yang baik.

Anak-anak yang mendapatkan porsi bermain yang tepat mampu memahami proses sehingga bisa mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal tersebut di atas akan menjadi bekal saat mereka tumbuh dewasa dan berada di lingkungan yang lebih heterogen dari saat ini.

Ada dua kategori bermain pada anak. Yaitu bermain aktif dan bermain pasif. Bermain aktif yaitu bermain yang menggunakan energi dan membutuhkan ide maupun inisiatif dari anak. Contoh: aneka permainan olahraga dan ketangkasan (renang, sepak bola, bulutangkis, bola basket, bola volley dan yang sejenisnya), petak umpet, lompat tali dan masih banyak lagi. Bermain pasif adalah bermain tanpa memerlukan mengeluarkan energi dan ide berlebih. Seperti menonton pertunjukan, menyemangati teman yang sedang berlomba, mendengarkan dongeng dan yang sejenisnya.

Berikut beberapa contoh permainan yang bisa diaplikasikan pada anak usia dini sebagai terapi bermain di rumah atau di sekolah.

Pertama, bermain yang bertujuan untuk memperoleh keterampilan pada anak. Seperti menggunting, mewarnai, menempel, meronce, membuat kerajinan tangan, mengendarai sepeda, melakukan kegiatan sehari-hari (mencuci, menyapu, menjaga kebersihan), membuat kue sederhana

Kedua, bermain yang bertujuan untuk pembelajaran, seperti menimbang benda, memilah benda berdasarkan bentuk dan warna, menghitung benda dengan permainan (melempar bola ke dalam keranjang, menuang air ke dalam botol), membuat kuis cerdas-cermat atau tebak-tebakan yang menghibur.

Ketiga, bermain untuk melatih sensorik dan motorik, seperti bermain pasir, balok, plastisin, lego. Keempat, bermain peran dan simulasi kejadian, seperti bermain peran tentang keluarga, memerankan pekerjaan, memerankan saat gempa bumi, kebakaran atau banjir. Maksud dan tujuan ini dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Contoh, pada saat simulasi kebakaran, anak diajak untuk membasahi kain, menggotong air, menyiram dengan cepat. Atau saat simulasi banjir, bisa dimainkan di kolam renang.

Kelima, bermain berkelompok. Contohnya ada pada beberapa permainan tradisional, seperti permainan ular naga panjangnya, galasin, petak umpet, masak-masakan, dan masih banyak lagi.

Kunci utama pada terapi bermain ini adalah anak yang menjadi pemegang peran utama. Orang tua atau pendamping bermain anak adalah fasilitator permainan yang harus mampu menghidupkan permainan dalam kaedah belajar sambil bermain. Rangsang anak untuk aktif, berfikir dan bergerak, berikan arahan dan aturan dalam permainan agar secara tidak langsung anak belajar mengenai kemandirian, tata tertib dan tanggung jawab. Jangan lupakan hal-hal yang harus diperhatikan orang tua atau pendamping yang sudah ada di artikel sebelumnya agar bermain bersama anak berjalan aman, menyenangkan dan bermanfaat. Selamat mencoba ya. Mari Bermain. (Dhika SuhadaIbu rumah tangga, Makassar)

 

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS