Mengenal Terapi Bermain untuk Anak Usia Dini | Part 1

Mengenal Terapi Bermain untuk Anak Usia Dini | Part 1Foto : Istimewa

SAHABAT KELUARGA – Sudah pernah mendengar play therapy? Secara teoritis play therapy atau terapi bermain adalah sebuah proses terapeutik yang menggunakan permainan sebagai media terapi agar mudah melihat eskpresi alami seorang anak yang tidak bisa diungkapkannya dalam bahasa verbal karena permainan merupakan pintu masuk ke dalam dunia anak-anak (Hatiningsih, 2013).

Secara umum terapi bermain adalah sebuah kegiatan bermain bersama anak dalam rangka membentuk perilaku anak menjadi lebih baik. Di usia yang masih dini (di bawah 5 tahun) kondisi emosi anak masih belum terpola. Terlebih jika anak belum bisa bicara. Hal inilah yang menjadi pencetus sikap anak menjadi susah dikendalikan, frustasi tanpa sebab, cepat sensitif di lingkungan baru dan ekspresi kecemasan anak lainnya.

Terapi bermain tidak hanya dilakukan pada anak-anak yang memiliki masalah khusus dalam pengendalian emosi tapi dapat juga dilakukan ke semua anak. Kenapa? Karena memang fitrah anak usia dini adalah bermain. Main sudah menjadi kebutuhan alamiah bagi anak-anak. Masa kecil adalah masanya bermain.

Tak ubahnya anak-anak, orang dewasa seperti kita pun sering dilanda kejenuhan, kemarahan dan ketidakstabilan emosi secara mendadak. Bedanya adalah pada orang dewasa mereka mampu mengungkapkan secara verbal dan non verbal, sehingga bisa mencari solusi sendiri seperti berbagi cerita dengan sahabat, pergi ke tempat yang tenang, beribadah, jalan-jalan, melakukan hobi dan lain sebagainya.

Sedangkan pada anak usia dini, mereka masih kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Sehingga dunia bermain inilah yang ideal bagi anak untuk menjadi sarana pelampiasan emosi, stres, kemarahan dan kecemasan. Emosi-emosi negatif pada anak bisa dikeluarkan melalui terapi bermain.

Apa saja yang harus diperhatikan dalam terapi bermain ini?

Pertama, safety atau keamanan. Dalam hal ini meliputi tempat bermain, media bermain, waktu bermain dan teman bermain anak. Pilih mainan yang sesuai dengan usia anak. Gunakan area bermain yang aman, jauhkan sudut meja yang tajam atau sambungan listrik yang terbuka. Anak usia dini memerlukan sedikitnya 15 menit untuk mendapatkan aktivitas luar ruangan.

Kedua, fokus. Orang tua atau pendamping bermain anak harus fokus mendampingi tanpa diselingi kegiatan pribadi yang berlebihan. Lepaskan gawai dan televisi maupun perangkat elektronik lainnya yang tidak digunakan selama proses terapi. Luangkan waktu minimal 30 menit sehari pada tiap anak untuk benar benar fokus menjadi teman mainnya.

Ketiga, jadikan anak sebagai pemimpin dalam permainan. Tugas orang dewasa adalah sebagai teman bermain yang mampu mengarahkan dengan baik selama proses bermain bersama.

Keempat, perhatikan ekspresi dan perasaan anak. Galilah informasi anak dengan penuh empati. Gunakan kata tanya yang baik yang mampu memancing komunikasi dua arah. Seperti memilih kata tanya ’ada apa’ dibanding ’kenapa’ saat bersama anak. Manfaatkan waktu bermain ini sebagai waktu berkomunikasi yang berkualitas dengan anak. Karena saat mereka menginjak remaja nanti, tentunya mereka sudah punya dunia sendiri.

Kelima, positive thinking kepada anak. Saat bersama anak, kita harus melihat kondisi dari sisi mereka.Tidak perlu mengkritik perilaku anak. Cepat tanggaplah terhadap yang mereka ungkapkan baik verbal maupun non verbal. Jangan panik dalam menghadapi kondisi anak. Jika orang tua sering stres maka anak akan terpengaruh. Sikap dan reaksi orang tua akan mudah dicontoh oleh anak.

Keenam, salah tidak apa-apa. Kesalahan dan kegagalan adalah proses belajar untuk bangkit dan tumbuh menjadi anak bermental kuat. Anak-anak juga harus merasakan salah dan benar sejak kecil dengan pengarahan yang baik.

Ketujuh, tidak ada ayah yang sempurna, tidak ada ibu yang sempurna pun tidak ada anak yang sempurna. Sebagai orang tua kita harus bisa menerima anak kita dalam keadaan apa pun. Karena bukan kesempurnaan yang kita cari melainkan kebahagiaan bersama anak.

Terapi bermain pada anak usia dini akan memberi kedekatan dengan orang tuanya. Ini akan menguatkan mental anak dan menjaga kestabilan emosi mereka. Jangan pernah kurangi kesempatan bermain yang sesungguhnya pada diri anak-anak karena semua ada masanya.

Anak yang pintar adalah anak yang sehat emosinya. Anak yang sehat emosinya akan tumbuh menjadi anak yang bahagia. Memupuk kedekatan orang tua dan anak sejak dini akan membuat anak-anak sehat emosinya. Sehat emosinya, bahagia jiwanya. Bahagiakan dulu jiwa anak-anak kita, maka kepintaran pun akan mengikuti. Mari bermain. *bersambung (Dhika SuhadaIbu rumah tangga, Makassar)

 

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS