Mendampingi Masa Pubertas Anak Laki-laki

Mendampingi Masa Pubertas Anak Laki-lakiimages.theconversation.com

Anak laki-laki dan perempuan bertumbuh menjadi dewasa dengan tahapan fisik dan psikologis yang berbeda. Terhadap anak perempuan, biasanya si ibu lebih mengenali anaknya, karena anak perempuan suka curhat ke ibunya. Sementara anak laki-laki cenderung kurang banyak membicarakan masalah pribadinya dengan orang tua, karena itu seringkali orang tua terlambat mengkomunikasikan masalah perubahan fisik dan psikologis anak laki-laki di masa pubertas.

Padahal sebenarnya semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, seringkali khawatir dengan perubahan fisik yang mereka alami, dan bertanya-tanya dalam hati mengenai seputar pubertas.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam upaya mendampingi anak laki-laki di masa pubertas.

Pertama, bersikaplah peka pada kebutuhan anak akan privasi. Berikan anak pemahaman tentang masalah-masalah yang akan dialami anak pada masa pubertas. Orang tua harus memahami perkembangan tubuh dan psikisnya. Mungkin sosok ayah lebih pas untuk memberikan penjelasan masalah ini. Sampaikan pula cara menjaga kebersihan diri.

Kedua, jelaskan juga soal pergaulan yang sehat dengan teman lain jenis. Pada masa ini anak sangat memperhatikan penampilan mereka; mulai timbul perasaan untuk memikirkan perempuan. Sebagian anak laki-laki menjadi sangat  supel dan interaktif dengan perempuan. Namun, ada pula yang menjadi senewen. Memikirkan orang yang disukai adalah hal normal dalammasa pubertas. Oleh karena itu orang tua perlu mengkomunikasikan batasan-batasan pergaulan anak dengan teman lain jenisnya.

Ketiga, komunikasikan pada anak tentang pengalaman mimpi basah. Berilah pengertian bahwa mimpi basah adalah hal yang normal terjadi dan merupakan proses menjadi dewasa. Semua anak laki-laki mengalaminya. Bagi muslim, jelaskan kewajiban untuk mandi besar saat anak mengalami mimpi basah.

Keempat, sibukkan anak dengan hal-hal positif. Rasa keingin-tahuan yang tinggi pada masa ini adalah potensi besar untuk diarahkan pada kegiatan yang positif. Dukung anak untuk mengembangkan bakatnya baik melalui kegiatan ekstra kurikuler sekolah atau les khusus di luar sekolah. Hal ini penting, karena keinginan-tahunya bisa saja mengarah ke hal negatif, jika tidak diarahkan dengan baik.

Dalam masa ini biasanya anak akan menanyakan masa muda orang tuanya. Oleh karena itu, perlu peran kedua orang tua untuk menjadi sosok teladan bagi anak dalam mendampingi masa pubertasnya. (Munasiroh, relawan Pustaka Kampung Literasi Wadas Kelir dan mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah IAIN Purwokerto)

 

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS