Menanamkan Kejujuran Sejak Dini

Menanamkan Kejujuran Sejak DiniIlustrasi. | NET

SAHABAT KELUARGA – ”Angga kenapa kemarin tidak masuk sekolah?” tanya ibu guru.

”Sakit bu guru!” jawab Angga.

Tiba-tiba Ani, teman sepermainan Angga, berteriak: ”Angga nggak sakit, Bu tapi pergi dengan mamanya!”

Kemudian ibu guru bertanya kepada Angga: ”Angga pergi kemana sama mama?”

”Pergi menengok nenek Angga yang sedang sakit,” jawab Angga.

”Oh, menengok orang sakit adalah perbuatan yang baik. Jadi Angga tidak harus berbohong pada bu guru, ya sayang,” ucap bu guru.

Angga mengangguk tanda mengerti.

***

Kasus di atas adalah gambaran bagaimana kita memberikan penanaman nilai-nilai kejujuran yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak dalam persoalan sehari-hari. Semakin dini ditanamkan maka budaya jujur akan melekat pada diri anak hingga usia dewasa.

Jika budaya jujur sudah berlaku menyeluruh tiap individu, maka perilaku korupsi dapat diminimalisir. Bahkan hilang dari pikiran seseorang.

Penanaman kejujuran sejak dini sangat relevan bila menyaksikan maraknya perilaku korupsi akhir-akhir ini. Menjadi budaya yang sudah pada level tidak kenal malu.

Pelaku dengan santai, seakan tidak mempunyai salah, tampak biasa-biasa saja ketika tertangkap tangan. Praktik korupsi dan penangkapan terhadap pelakunya hampir setiap kita saksikan. Silih berganti dengan pelaku berganti-ganti.

Komisi Pemberantasan Korupsi begitu gencar menyusuri lorong persembunyian pelaku. Tak pernah lelah seiring dengan bertambah banyaknya pelaku yang tampak lebih pintar mencari alibi dan menata sandiwara yang apik. Sejumlah undang-undang dengan pasal-pasal yang menjerat para pelaku korupsi ternyata belum mampu membuat jera.

Jika melihat fenomena di atas, akar persoalan moral adalah masalah penting yang harus menjadi perhatian. Kejujuran, ya kejujuran manusia yang sudah hilang. Nilai-nilai yang lama ditanamkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia memudar seiring perkembangan zaman.

Oleh karena itu menjadi tugas orang tua, masyarakat dan guru untuk mengajarkan nilai-nilai kejujuran sedini mungkin pada anak-anak. Kejujuran adalah berani mengatakan sesuai dengan kenyataan.

Jika anak-anak yang masih polos dibiasakan berperilaku jujur, dampak ke depan mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai hati nurani yang bernilai tinggi. Mereka akan menjadi pribadi yang kuat lahir dan batin.

Hal yang dapat dilakukan dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak, antara lain:

Pertama, latihlah sikap kejujuran anak dengan tanya jawab sederhana apa yang sudah dilakukan. Setelah pulang sekolah ajak anak berdialog apa saja peristiwa yang terjadi di sekolah, baik dengan teman atau dengan guru.

Demikian juga dengan guru, adakan percakapan sederhana sebelum kegiatan bermain dilakukan. Siapa hari ini yang sudah mandi, siapa yang tadi malam belajar dan pertanyaan-pertanyaan sederhana lain yang memancing anak menjawab secara jujur.

Kedua, ceritakan tokoh-tokoh penting yang menjunjung sikap jujur dalam hidupnya. Hal ini akan memicu anak memiliki tokoh idola yang menjadi panutan dalam bersikap dan berbicara.

Ketiga, perdengarkan dongeng-dongeng sarat makna kejujuran. Dongeng walaupun imajinatif namun dapat memberi pengaruh positif pada anak tentang nilai-nilai kebaikan. Apalagi jika tokoh dalam dongeng merupakan idola anak.

Keempat, ajaklah anak bermain peran, misal pasar-pasaran. Guru dapat menjelaskan dalam permainan ini bahwa antara penjual dan pembeli hendaknya bersikap jujur. Penjual jujur dengan kondisi dagangannya, pembeli jujur dengan keinginan terhadap barang yang dibelinya. Dengan bermain peran anak-anak akan lebih mendalami mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.

Kelima, yang lebih utama berilah contoh model yang baik dari lingkungan terdekat anak,  apalagi orang tua harus menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Ingatlah, anak adalah peniru ulung apa yang dilihat dan didengar langsung di sekitar lingkungannya. Sekali orang tua berbohong, seorang anak akan menganggap benar suatu kebohongan yang dilakukan orang tua sehingga suatu saat anak akan meniru.

Keenam, tanamkan pada anak bahwa jujur adalah suatu sikap yang mahal harganya, jika dirusak oleh kebohongan akan berimbas pada kehilangan harga diri dan di masyarakat akan menjadi noda yang sulit dihilangkan dari pandangan manusia. Generasi jujur lebih mempunyai nilai yang berharga dari apapun.

Semoga kita mampu melakukan dengan kesadaran dan pemahaman yang baik dalam berlaku jujur pada diri sendiri dan memberikan teladan pada anak-anak generasi bangsa. Kejujuran merupakan anugerah dari Allah yang bersemayam di hati nurani manusia. Barang siapa dapat mengikatnya maka kebahagiaan yang akan didapat. Semoga.  (Sikhah – Guru Taman Kanak-Kanak Pertiwi Bobosan, Purwokerto Utara, Banyumas)

 

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS