Jangan Salah, Anak Prasekolah Juga Bisa Depresi Lho, Bun

Jangan Salah, Anak Prasekolah Juga Bisa Depresi Lho, BunJangan Salah, Anak Prasekolah Juga Bisa Depresi Lho, Bun/ Foto: Thinkstock

Jakarta – Bicara depresi, bisa jadi kita pikir itu kondisi yang hanya bisa dialami remaja atau orang dewasa. Tapi jangan salah, Bun, anak prasekolah juga bisa lho mengalaminya.

Psikiater anak dan remaja Dr Barry Garfinkel, bilang depresi pada anak prasekolah jarang terjadi dan sering salah disangka problem lain. Nah, ciri kalau anak prasekolah kena depresi antara lain si kecil jadi lebih lamban, pendiam, suka menyendiri, dan mood-nya jelek. Bicara mood jelek, memang normal kalau anak prasekolah bisa mengalami perubahan mood.

“Kalau dalam beberapa jam mood mereka berubah jadi jelek itu normal. Tapi tanda depresi, mood mereka selalu jelek dalam waktu lama misalnya seminggu atau sebulan berturut-turut. Anak prasekolah yang full energy tapi tiba-tiba nggak bersemangat dalam hidup, tidak ceria lagi, itu bisa jadi gejala dia depresi,” kata Barry dikutip dari Babble.

Gejala lainnya bisa berupa penurunan kemampuan anak misalkan yang sebelumnya sudah bisa toilet training tapi tiba-tiba anak jadi ngompol. Atau mereka lebih sering tantrum dan agresif,” tambah Barry.

Ia menyarankan orang tua untuk selalu mengobservasi anaknya dan meminta pendapat orang di sekitar yang banyak menghabiskan waktu bareng anak misalnya guru untuk melihat perubahan perilaku anak. Untuk mengatasi depresi pada anak prasekolah, biasanya konseling dan terapi dilakukan. Pemberian obat jarang dilakukan.

“Kalau depresi pada anak usia prasekolah tak segera diatasi, bisa menimbulkan masalah akademi dan perilaku saat mereka masuk sekolah dasar,” kata Barry.

Dikutip dari Psychology Today, National Mental Health Association mengingatkan agar orang tua berkonsultasi dengan dokter anak atau psikiater anak ketika perubahan perilaku yang bisa jadi tanda depresi muncul Salam waktu 7-9 bulan dan terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu. Terlebih, anak prasekolah yang mengalami depresi lebih mungkin mengalami depresi saat dewasa kelak.

The Canadian Mental Health Association menyebutkan anak yang salah satu orang tuanya mengalami depresi 25 persen lebih berisiko mengalami depresi. Kalau kedua orang tuanya depresi, risikonya meningkat jadi 75 persen. Di tahun 1980-an, American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual (DSM) mengkategorikan depresi pada anak prasekolah punya kriteria sama dengan depresi pada orang dewasa. (rdn/vit)

 

Sumber : haibunda.com

COMMENTS