FAMILY FIRST

FAMILY FIRSTIlustrasi

Saya lupa bagaimana persisnya, tapi saya pernah membaca suatu cerita yang meninggalkan kesan mendalam. Seingat saya sih, saya membaca cerita ini di timeline social media. Kurang lebih beginilah ceritanya:

Suatu hari, seorang ayah membawa anaknya pergi berjalan-jalan ke desa terpencil yang kumuh. Ayah dan anak ini berasal dari keluarga kaya raya, dengan harta melimpah ruah yang tak habis dipakai sekian turunan. Lalu untuk apa berkeliling ke desa kumuh? Rupanya sang ayah ingin menunjukkan pada anaknya seperti apa keluarga miskin itu.

Setelah beberapa lama mengobservasi bersama kehidupan orang-orang miskin di desa terpencil dan kumuh tadi, sang ayah bertanya pada anaknya.

Ayah: “Bagaimana nak? Sudahkah kamu melihat bagaimana kehidupan orang miskin itu?”
Anak : “Iya, sudah ayah.”
Ayah: “Jadi kira-kira pelajaran apa yang bisa kau ambil dari perjalanan kita tadi?”
Anak: “Kita mempunyai kolam renang besar di rumah, mereka mempunyai sungai yang jauh lebih besar untuk bermain. Rumah kita mempunyai lampu terang, mereka mempunyai langit tak berbatas bertaburan bintang yang bersinar terang. Kita mempunyai televisi, komputer, telepon, mereka mempunyai banyak sekali teman untuk bermain bersama. Kita mempunyai anjing peliharaan, mereka mempunyai banyak anjing, kucing, ayam, burung, dan binatang lainnya. Terimakasih ya ayah, sudah menunjukkanku betapa miskinnya kita. “

Sang ayah terkejut mendengar jawaban anaknya. Namun akhirnya menyadari bahwa uang dan harta benda bukanlah yang membuat kita “kaya”, tapi kasih sayang, keluarga, kesederhanaan, dan kebahagiaan karenanya.

Kenapa juga saya tetiba teringat cerita ini?

Berawal dari curhatan seorang teman -as always:p- yang menggalau. Jadi ia dan suami bercita-cita untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya karena ingin pensiun sebelum berusia 40 tahun. Rencana mereka sih, begitu 40 tahun, stop bekerja dan hanya “memutar” uang yang ada untuk kebutuhan sehari-hari. Work hard, play later, begitu prinsipnya.

Saya salut sekali melihat teman saya ini. Sebagai pengusaha, ia memang bekerja mati-matian. Bayangkan, pagi ini ada di Jakarta, siang di Yogyakarta, malam sudah kembali di Surabaya. Kadang berminggu-minggu tak pulang ke rumah saat bertugas di luar kota. “Kejar setoran, mumpung ada orderan. Rejeki.”, begitu katanya.

Lalu apa yang membuatnya galau? Sebagai emak-emak, apalagi alasannya selain anak? Di satu sisi, ia selalu membuat pembenaran dengan “Ah, ini kan kerja mati-matian juga buat anak. Nanti kalau dia sudah besar, aku dan suami sudah pensiun, bisa senang-senang terus bersama-sama”. Di sisi lain, ia merasa anaknya perlahan-lahan mulai tak membutuhkannya lagi dan malah lebih tergantung pada nanny. FYI, anaknya saat ini masih berusia 4,5 tahun, sedang lucu-lucunya.

Ia bercerita sejak anaknya dimasukkan ke babyschool, belum pernah sekalipun ia berkesempatan mengantarnya ke sekolah. Apalagi ikut ke acara field trip atau pembagian rapor. Sekalinya ia pulang ke rumah, anaknya sudah tertidur lelap, dan ia harus kembali bekerja saat anaknya belum lagi bangun. Demikian setiap hari. Weekend? Ia bilang sendiri nih. Business never stops. Even weekend.

“Ya sering merasa bersalah sih emang Met. Tapi pasti anakku ngerti juga kok. Aku kerja begini kan buat dia juga. Lego kan mahal. Barbie, Little Pony, mainannya dia juga mahal. Belum lagi sekolahnya international school, mahal buanget.”

Terus terang saya bingung juga dicurhati hal ini. Bukan karena tak tahu harus menjawab apa, tapi lebih tepatnya tak tahu bagaimana menjawab tanpa terkesan menggurui atau menjudge. Akhirnya saya ceritakan saja cerita di atas tadi ke teman saya itu.

Menurut pendapat saya pribadi -yang belum tentu benar sih, tapi ini subyektif sekali ya-, mencari uang itu bisa dilakukan kapanpun. Saya percaya sekali rejeki sudah diatur oleh Allah Swt. Dan ingat, rejeki bukan hanya sekadar uang atau harta benda. Anak yang soleh solehah, sehat, cerdas, keluarga yang sakinah adalah rejeki yang lebih tak ternilai harganya.

Rejeki Allah Swt itu luaaaas. Kalau belum diberi rejeki uang berjuta-juta, mungkin kita diberikan rejeki kesehatan. Kita bisa lebih bahagia terhindar dari ketakutan menjaga harta benda. Kalau belum diberi rejeki mobil mewah, mungkin kita diberikan rejeki sepeda kayuh. Kita bisa lebih bahagia terhindar dari mahal dan ribetnya mengurusi mobil mewah yang rusak. Dsb dsb.

Mendampingi tumbuh kembang anak sayangnya tidak bisa dilakukan kapanpun. Coba deh, seandainya selama kita kecil diasuh oleh orang lain, lalu saat besar tetiba orang tua kita (yang tak pernah ada untuk kita waktu kecil) mengharapkan kita curhat, bermanja-manja, mau tidak kira-kira?

Beda kasus lagi, contohnya nih orang tua bekerja tidak ngotot, dengan jam kerja yang wajar. Misalnya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sebelum berangkat kerja masih sempat makan pagi bersama anak, bersenda gurau di perjalanan mengantar anak sekolah, sore pun masih bisa makan malam bersama, berkumpul sekadar curhat setiap harinya sambil menonton televisi, tidur pun masih sempat mengantar ke tempat tidur. Setiap pembagian raport masih bisa datang, weekend pun difokuskan untuk keluarga. Saat anak sudah remaja, lalu orangtua mengharapkan anak masih mau curhat atau bermanja-manja? Masih masuk akal ya?

Bekerja tentu perlu, tapi tetap ingat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mendampingi anak adalah kewajiban semua orangtua. Ini juga mengingatkan saya sendiri nih sebetulnya:) Semoga saya selalu ingat bahwa keluarga selalu menjadi prioritas utama.

— Meta Hanindita

sumber : www.metahanindita.com

COMMENTS