Dampak Memaki Buah Hati

Dampak Memaki Buah HatiIlustrasi

Dampak Memaki Buah Hati – Suatu pagi di hari yang cerah, di tengah keheningan suasana perkampungan. Admin melihat ramai sekali anak bermain dengan riangnya, tertawa lepas, dan berkreatifitas. Memang beberapa kreatifitas mereka tak sedikit mengotori tubuh dan pakaian mereka.

Di tengah keasyikan tersebut, dari dalam rumah tepatnya di depan rumah admin, terdengarlah suara teriakan yang familiar. Ia adalah sang ibu dari salah satu anak yang bermain tersebut.

“Nganuuu (nama disamarakan) pulang kamu”!!! sembari berlari mendekati anaknya. Sang anak yang tengah tertawa riang dan berkreatifitas, akhirnya terhenti tawanya, berganti kecemasan yang melanda. Dari tangan kreatifnya tersebut, baju telah kotor, terciprat lumpur. Lucu-lucu gimana gitu. Namun hal ini tidak lucu bagi sang ibu.

Dengan agak keras sang ibu memukul, dan memaki sang anak dengan perkataan yang syarat akan penghinaan dan bulliyan. Ditambah dengan tempat yang tidak tepat, yaitu di depan umum, sempurnalah rasa malu yang didapat sang anak.

Tanpa perduli lingkungan sekitar, sang ibu memukul dan memaki sang anak. “Nganu ini, bungull (logat banjar), sudah di bilangi jangan main kotor”

Bunda yang budiman, terkadang contoh kasus di atas adalah contoh kasus yang seringkali terjadi di sekitar kita bukan?

Sebuah kasus yang sejatinya terkadang dianggap sebagai sebuah hal yang wajar dalam mendidik anak. Yang mana anggapan kewajaran tersebut seringkali membuat kita pongah saat di tegur dan di nasehati orang lain dengan ucapan, “terserah aku dong, anak-anak ku sendiri” “jangan ikut campur masalah keluargaku”.

Hay bunda yang masih kurang sabar dengan anak lucunya, mungkin sang anak memang lahir dari pada rahimmu, namun ia pun juga manusia yang perlu akan keadilan atas apa yang ia lakukan.

Taukah hay bunda, bahwa sikap anda justru akan menjadi bumerang anda di kemudian hari. Sikap pongah nan sombong anda terhadap anak anda secara berulang, berpotensi untuk membentuk sebuah maindset kelam nan nestapa dalam diri anak. sebuah maindset dan keyakinan bahwa, jalur kekerasan dan bulliyan adalah model terbaik dalam memperlakukan orang lain.

Lebih lanjut anak yang seringkali mendapatkan perlakuan kasar dengan makian yang ditujukan kepada sang anak, akhirnya membuat sang anak merekam makian yang anda ucapkan secara berulang terhadap dirinya. Dari rekaman di dalam otak sang anak tersebut, akhirnya membentuk sebuah keyakinan dalam alam bawah sadarnya bahwa ia memang anak seperti apa yang anda makikan kepadanya. Makian “bodoh”, “anak tidak berguna”, “anak nakal”, “anak malas”, dan seluruh ungkapan kebun binatang yang terkadang menyertainya berpotensi menjadi kenyataan dalam kehidupannya.

Dan masih banyak lagi dampak buruk yang ditimbulkan, entah itu dari sudut pandang agama, maupun dari sudut pandang psikologi itu sendiri.

Dampak Memaki Buah Hati

Jika akhirnya ia menjadi bodoh beneran bagaimana? jika ia menjadi anak malas dan nakal beneran bagaimana? Yakin perilaku anda menyalahkan gurunya disekolah tepat. Yakin anggapan sepintas lalu tentang guru anak yang tidak dapat membimbingnya? atau anda menyalahkan teman sebaya anak yang mempengaruhinya? atau barangkali memang teman sebaya anak anda juga mendapatkan perlakuan yang serupa dari orang tuanya. Begitulah siklus hidup. Sebuah siklus salah yang terkadang dianggap menjadi hal “wajar”.

Jika sudah kejadian anak anda menjadi seperti apa yang anda makikan, barulah anda sadar. Sukur-sukur jika sadar. lah kalau malah justru menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitar, kan jadi repot. Itu namanya mah cari musuh dong.

Duh bunda, yuk deh sama-sama kita introspeksi diri, dan mungkin ini juga sekaligus buat penulis agar lebih dapat mengendalikan diri nantinya dan bekerjasama dengan istri dalam menghadapi anak. Tegas itu harus, tapi bukan berarti mencampurkan penghinaan didalamnya. Ingat loh setiap apa yang anda ucapkan adalah sebuah doa. Masa sih ibu atau orang tua gemar mendoakan keburukan bagi anaknya.

Karena anak, adalah generasi penerus keluarga, bangsa, dan umat untuk itu, lakukanlah hal terbaik yang bisa anda lakukan dengan jalan hikmah tanpa penghinaan. Jika hal ini sudah dilakukan, semoga kedepannya anak kita menjadi anak yang berguna bagi seluruh alam. (Muhamad Fadhol Tamimy)

 

Sumber : psikoma.com

COMMENTS