Waspadai, Mungkin Anda Berada dalam Keluarga Toxic.

Waspadai, Mungkin Anda Berada dalam Keluarga Toxic.Ilustrasi Keluarga Toxic

Keluarga semestinya menjadi sumber kebahagiaan dan tempat berlindung yang aman bagi anggota keluarganya untuk mencari kenyamanan dan ketenangan.

Akan tetapi, banyak kejadian, keluarga justru menjadi sumber trauma dan rasa takut pada anggota keluarga di dalamnya. Orang tua kerap mengkritik apapun yang dilakukan anak, sesama saudara saling curiga, saling iriKondisi keluarga. Akibatnya, hubungan keluarga saling menjauh, anak ngga betah tinggal di rumah, lebih senang curhat pada orang lain daripada terhadap orang tua, dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai keluarga toxic.

Keluarga toxic, merujuk pada perlakuan orang tua atau saudaranya yang saling menyakiti dan merusak fisik, mental, psikologis dan emosi sang anak.

Masalahnya, anggota keluarga umumnya tak merasa memiliki keluarga toxic. Hal ini disebabkan oleh perilaku toxic yang terus-menerus dilakukan dan dianggap lumrah.

Padahal dampak negatifnya tidak bisa dianggap remeh. Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan mental, tapi juga bagi kesehatan fisik anak, pasangan, maupun anggota keluarga lainnya.

Bagaimana mengidentifikasi sebuah keluarga di sebut keluarga toxic? Ada beberapa ciri yang menunjukkan keluarga toxic.

  • Orang tua terlalu sering mengkritik anak dengan Keras

Orang tua hampir tidak pernah menunjukkan empati pada anak-anak mereka. Mereka kerap mengomentari anak maupun anggota keluarga lainnya dengan komentar yang tidak menyenangkan maupun kritik yang keras terhadap penampilan, perbedaan pola asuh, hingga persoalan sekolah, pekerjaan dan hubungan sosial.

  • Jarang mengapresiasi dan tidak menghargai privasi

Orang tua atau sesama anggota keluarga kurang apresiasi terhadap anggota keluarga lainnya. Sebaik apa pun usaha yang dilakukan, tidak ada anggota keluarga, termasuk orang tua yang memberikan apresiasi atau pujian.

  • Membuat anggota keluarga merasa tidak nyaman

Anggota keluarga akan merasa kurang kasih sayang dan cenderung tidak percaya diri. Kurangnya rasa percaya diri ini bisa mengakibatkan terganggunya kehidupan sosial maupun merugikan diri sendiri. Tidak adanya dukungan, bahkan pengalaman direndahkan dan diremehkan oleh anggota keluarga bisa membuat korban selalu takut dan ragu saat harus mengambil keputusan apa pun dalam hidupnya.

  • Kebutuhan Dasar Tidak Terpenuhi

Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anggota keluarga. Kebutuhan dasar tidak hanya terbatas pada kebutuhan makan, tetapi juga pakaian, pendidikan, bahkan kamar, Ini dikarenakan orang tua atau anggota keluarga lainnya cenderung tidak terlalu memedulikan anggota keluarganya. Anak juga tidak terpenuhi haknya untuk mendapatkan rasa aman dan terhindar dari ancaman.

  • Terlalu Mengatur dan Manipulatif

Orang tua selalu mengatur kehidupan anaknya sehingga membuat hilangnya batas-batas privasi anak.Orang tua atau saudaranya tidak segan mengendalikan anggota keluarga lainnya dalam semua aktivitas dan keputusannya. Misal dalam hal memilih mata pelajaran, karier, pasangan, hingga soal bagaimana mengasuh anak agar sama persis dengan kemauannya.

  • Narsistik dan Tidak Mau Mendengarkan Orang Lain

Orang tua cenderung menjadi narsistik. Biasanya, ini ditunjukkan dengan keengganan mendengarkan pendapat atau masukan dari anggota keluarga maupun orang lain, dan lebih banyak menyalahkan orang lain atas kondisi yang tidak sesuai keinginannya.

  • Adanya Kekerasan Fisik dan Verbal

Orang tua terlalu mengatur anak, kurang menghargai dan mendengarkan pendapat anak maupun pasangan, mengkritik kesalahan pasangan dengan berlebihan, bahkan melakukan kekerasan , berupa kekerasan fisik dan verbal seperti memukul dan membentak.

Seseorang yang hidup dalam keluarga toxic secara sadar maupun tidak, akan berpotensi mengulang pola hubungan yang sama pada orang lain ketika dewasa atau saat membina rumah tangga. Ini dikarenakan perilaku tersebut sudah meresap ke dalam kebiasaan hidupnya.

Kondisi ini harus segera diatasi. Jika tidak, maka hubungan yang tidak sehat ini bisa mengancam keharmonisan keluarga, anak-anak akan mengalami trauma yang merusak mental dan perilakunya, pasangan jadi stres dan rentan menimbulkan perselisihan yang berakhir dengan kekerasan dalam rumah tangga. Yanuar Jatnika/Sumber: Ibupedia.com dan id.theasianparent.

Sumber: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS