SHARENTING SEBAGAI FENOMENA ORANG TUA MILLENNIAL – BAHAYA YANG MENGINTAI ANAK DI BALIK MEDIA SOSIAL

SHARENTING SEBAGAI FENOMENA ORANG TUA MILLENNIAL – BAHAYA YANG MENGINTAI ANAK DI BALIK MEDIA SOSIALIlustrasi

Pernahkah kalian menjumpai akun-akun di media sosial yang seringkali memposting foto atau video bayi-bayi yang lucu dan menggemaskan? pernah gak sih kalian berpikir “masih bayi kok sudah dibuatin instagram” , atau kalian pernah melihat juga fenomena di lingkungan sekitar kita dimana orang tua sering kali menggunakan ponsel pintarnya untuk memposting foto, merekam video ketika arisanlah, ulang tahunlah, berpakaianlah, bermain dengan temannya lah, bahkan berenang, mandi, makan, dan lain-lain.

Nah tanpa sadar, ketika para orang tua ini seringkali melakukan hal tersebut, sebenarnya mereka menjurus kepada perilaku “SHARENTING”
Apa itu “sharenting” ? Bahaya gak? dampaknya apa sih? Nah penasaran kan? silahkan lanjutkan untuk membaca artikel ini.

Menurut definisi dari kamus Collins, sharenting adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang tua dengan menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan memberikan informasi yang detail tentang anak mereka (sharenting as cited in: Collins dictionary). Istilah ini pertama kali diterbitkan oleh The wall street journal yang merujuk kepada oversharenting, yaitu kombinasi dari oversharing dan parenting. Dan yang dimaksud disini adalah orang tua yang seringkali mengunggah kehidupan pribadi ke media sosial, dari hal yang bersifat personal seperti kegiatan anak sehari-hari, ekspersi perasaan, maupun tempat dan lokasi-lokasi yang sering dikunjungi sang anak.

Selama dekade terakhir, pengunggahan foto tentang anak dan kegiatannya di media sosial melambung tinggi dan memainkan peran penting dalam dunia digital. Orang tua era generasi Y atau biasa disebut millennial cenderung lebih menyukai memotret dan mengunggah foto di media sosial dibandingkan dengan menikmati momen yang ada. Orang tua yang mengunggah foto dan video aktivitas anaknya mendapati sebuah kepuasan tersendiri. Hal ini merupakan salah satu fenomena sosial yang merujuk kepada teori digital narccism.

Digital narccsism adalah sebuah kecenderungan tentang promosi diri yang berlebihan dan didorong oleh kebutuhan diri kita untuk menunjukkan siapa kita terhadap orang lain dengan melalui jaringan sosial (Keen A, 2006). Narccism sendiri didefinisikan sebagai sebuah kegiatan daya tarik diri sendiri, berlebihan terhadap diri, sombong, dan egosentrisme (dictionary.com). Beberapa orang di generasi Y sekarang ini, peran sosial media tak jarang digunakan untuk memamerkan self-publishing perilaku mereka, barang apa yang sedang dikenakan, hobi apa yang disukai dan lain-lain.

Fenomena dari digital narcissm menjadi terhubung dengan teknologi web versi 2.0, dimana lebih menekankan terhadap interaksi dan kolabolari di media sosial (Fusch et al, 2010). Web versi 2.0 ini mengembangkan fasilitas untuk pengguna untuk menggunakan tombol seperti “like” “comment” “share” “retweet” bahkan “notice me”. Hal ini bisa dihubungkan mengapa orang tua era millennial sangat menyukai aktivitas dan membagikannya di media sosial karena output dari media sosial menjadi sebuah platform yang menonjol untuk sarana komunikasi.

 

Lalu, apasih penyebab dan tujuan orang tua melakukan kegiatan “SHARENTING” di media sosial?

Naaaah, Fenomena sharenting yang dilakukan oleh para orang tua millenial saat ini bukanlah tanpa sebab. Banyak sekali faktor – faktor yang mempengaruhi orang tua untuk mempublikasikan foto dan video buah hati mereka.

Pertama, jumlah teman di sosial media. Semakin banyak teman di media sosial mendorong para orang tua untuk semakin intens dalam sharenting. Hal ini dikarenakan respon dari teman – teman di media sosial mereka sangatlah banyak dan antusias.

Kedua, lamanya penggunaan media sosial. Hal ini berkorelasi dengan jumlah teman yang didapatkan di media sosial. Semakin lama para orang tua menggunakan media sosial, semakin banyak pula teman yang didapatkan.

Berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi terdapat tujuan dibalik orang tua melakukan sharenting. Pertama, orang tua melakukan sharenting di media sosial untuk mengenalkan anak – anaknya kepada orang – orang. Kedua, tujuan dari para orang tua mempublikasikan foto dan video anak – anaknya untuk berbagi pengalaman – pengalaman yang menyenangkan dan hambatan – hambatan dalam mengasuh anak. Ketiga, orang tua membagikan foto dan video anak – anaknya dalam rangka dokumentasi dengan tujuan sang anak dapat mengakses dan melihat foto dan video sewaktu kecil mereka dengan mudah.

Kalau begitu “Sharenting” itu bahaya gak sih?

Naaah ini, karena sharenting melibatkan aktivitas di media sosial, jadi dibalik fenomena sharenting terdapat bahaya mengintai anak – anak karena kelalaian orang tua dalam mempublikasikan foto dan video anak di media sosial. Mempublikasikan foto dan video anak tanpa pertimbangan yang berarti akan mengancam keselamatan anak. Adapun berikut ini beberapa contih bahaya – bahaya yang ditimbulkan fenomena sharenting.

1.Digital Kindnapping
Digital kindnapping adalah penculikan secara digital. Akhir-akhir peristiwa ini sering terjadi, dimana banyak para penculikan yang menjual bayi dan anak dengan mengklaim bahwa bayi tersebut adalah milik mereka. Foto-foto tersebut diambil dari instagram dan facebook para orang tua yang membagikan foto aktivitas anak mereka. Dari foto yang diambil, mereka mengunggah ulang dan memberikan patokan harga terhadap bayi meskipun bayi tersebut belum ada di tangan mereka. Bisa jadi, dengan oversharenting yang dilakukan oleh orang tua, mereka secara diam-diam mengetahui alamat rumah, alamat sekolah anak, dan teman-teman anak. Hal ini jelas dapat mengkhawatirkan orang tua apabila kelak anak mereka menjadi target penculikan.

2. Munculnya Akun Palsu Mengatasnamakan Anak
Dengan sharenting yang berlebihan, tak heran banyak juga ditemukan akun-akun palsu yang mengupload foto dan dibuat dengan beragam caption. Mengatasnamakan anak dan ini biasanya terjadi di kalangan selebriti. Hal yang mengkhawatirkan adalah, para pembuat akun palsu ini menggunakan akunnya sebagai peluang bisnis mereka.

3. Low Self-esteem dan minimnya privasi pada anak
Nahhh, ini bahasan yang psikologi banget!!! Low self-esteem pada anak!. Self-esteem atau harga diri adalah penilaian individu atas hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku seseorang mempengaruhi dirinya sebagai orang yang berharga, memiliki kemampuan, dan kompeten (Leary & Baumeister, 2000). Zaman sekarang orang tua yang mengatakan diri mereka sebagai kekinian, tak heran terkadang menggunakan anaknya baju-baju atau yang dikenal sebagai outfit of the day. Hasil perpaduan ootd tersebut difoto dan kemudian dibagikan di media sosial. Untuk beberapa kasus, contohnya banyak ditemukan netizen-netizen yang cenderung menggurui dan mengatur pakaian anak. Anak cenderung bisa disetir netizen dan menjadikan self-esteem mereka rendah. Banyaknya kegiatan yang diunggah bahkan terlalu melewati batas privasi membuat privasi anak menjadi minim. Bagaimana suatu saat kelak anak dewasa menjadi malu atas apa yang sudah di posting orang tua mereka sewaktu kecil.

Kalau sudah tahu berbagai bahaya seperti diatas, lantas mungkin kalian bertanya-tanya, gimanasih caranya menggunakan media sosial dengan bijak? secara jaman sekarang buat membahas parenting dengan yang lain menggunakan media sosial.
Yaappp, kali ini ada beberapa cara menggunakan media sosial dengan bijak sebagai media parenting untuk anak:
Media sosial bukanlah hal yang baru lagi bagi masyarakat Indonesia. Hampir semua golongan masyarakat aktif menggunakannya. Banyak manfaat yang didapatkan dari sosial media tergantung bagaimana individu – individu dapat memanfaatkannya dalam kehidupan sehari – hari. Disamping dampak positif, media sosial juga menimbulkan banyak dampak negatif yang harus diperhatikan terutama dalam hal sharenting. Para orang tua harus cerdas dalam menggunakan media sosial. Berikut beberapa solusi untuk menjadi pengguna media sosial yang cerdas.

1. Menyaring permintaan pertemanan. Hal ini perlu dilakukan karena jika para orang tua yang senang melakukan sharenting sembarangan dalam pertemanan di media sosial, orang yang tidak dikenal akan dengan mudah mengetahui informasi tentang anak – anak yang dapat mengancam keselematan sang buah hati.

2. Jangan terlalu sering mempublikasikan foto dan video anak di media sosial. Hal ini dapat menyebabkan orang tua terlalu asyik bermain media sosial sehingga anak akan merasa diabaikan dan banyak orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan hal tersebut.

3. Pastikan akun media sosial memiliki proteksi yang baik. Hal yang terpenting adalah para orang tua sadar bahwa mencari eksistensi di sosial media dengan konteks sharenting juga harus memiliki batasan privasi sehingga tidak memiliki dampak yang serius.

4. Menjadi model adalah cara terbaik untuk memberi pembelajaran anak melakukan apa yang dia lihat, hal ini juga harus mendapatkan perhatian lebih bagi orang tua. Jika anak sering melihat orang tua bermain gadget, anak akan merasa bahwa gadget tersebut lebih penting daripada anak. Dimulailah dimana anak merasa ingin tahu apa yang membuat gadget menjadi prioritas orang tua dibanding dia. Dengan membiasakan menggunakan gadget tidak dihadapan anak, memperbolehkan anak mengenali gadget sesuai dengan usianya adalah salah satu usaha yang baik untuk menghindari hal negatif sebagai the role model.

5. Melindungi anak dengan memberi pembelajaran cara aman bermain social media. Zaman sekarang, anak-anak sudah banyak bisa mengakses lewat berbagai macam gadget, di dunia nyata, kita mengajarkan anak dengan memberi peringatan yang akan mereka terima dan mengajarkan mereka bagaimana melindungi dari hal tersebut. Sedangkan di social media atau dunia internet, karena banyaknya orang-orang baru dan tidak mereka kenal, lebih penting untuk tahu bagaimana melindungi mereka ketika menggunakan keuntungan berinternet. Dengan mengetahui situs apa yang sering anak kunjungi, memberikan peraturan untuk menggunakan akses internet di rumah, mengikuti mereka di social media agar anak jujur kepada jika mereka tidak menyembunyikan hal yang buruk, dan men-set software dengan anti-virus atau semacamnya. Hal-hal tersebut dapat menjaga anak dari kejahatan.

Bagaimana informasi diatas? berguna bukan? Artikel diatas semoga dapat menyadarkan para ibu-ibu, khususnya kita nanti ketika menjadi orang tua seharusnya menjadi bijak dengan perkembangan teknologi, seyogyanya kita membatasi perilaku dan tidak oversharenting terhadap kegiatan anak kita sehingga suatu hari nanti tidak menghasilkan dampak yang tidak diinginkan.

Lots of love ;

— Hafni Iva Nuryana

SUMBER : hafnivanryn.blogspot.co.id

COMMENTS