Ranking Terakhir Berjiwa Pahlawan

Ranking Terakhir Berjiwa PahlawanIlustrasi

Di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah tempat saya mengabdi, ada seorang siswa yang selalu mendapat ranking terakhir. Bahkan saat kenaikan kelas, setiap 2 tahun ia selalu tinggal di kelas. Bayangkan saja, umurnya sudah berapa sekarang? Mungkin sudah mengikuti ujian SMP atau bahkan sudah masuk SMA. Lambat laun ia dijuluki sebagai nomor wahid.

Mungkin orang tua anak itu merasa tidak nyaman dengan panggilan ini. Namun anehnya, anak itu tidak keberatan dengan panggilan tersebut. Pada saat pelajaran selesai, sengaja saya adakan kegiatan hypno motivation bagi siswa kelas 5. Saat itu, saya menanyakan cita-cita mereka jika sudah besar. Ada yang menjawab ingin menjadi polisi, tentara, guru, pilot, bahkan ada yang memimpikan ingin menjadi presiden.

Siswa tersebut memang tidak memerhatikan kegiatan  hypno motivation yang saya berikan, namun ia sibuk melihat teman-temannya yang mulai tertidur satu persatu.  Saat saya bertanya apa cita-citanya, tidak diduga ia menjawab : “Saya ingin mengabdi pada kedua orang tua dan guru-guruku.” Lalu saya menanyakan cita-cita berikutnya, iapun menjawab : “Saya ingin menjadi ibu yang bisa memasak dan menyekolahkan anak-anak.

Ada salah satu anak yang tertawa keras karena tidak masuk ke dalam kata-kata yang saya arahkan. Semua siswa menjadi terbangun dan tersadar. Malahan semuanya ikut tertawa, menertawakan anak yang tadinya menertawai anak tersebut.

Diakhir sesi, barulah saya menyuruhnya agar giat dalam belajar. Teruslah berlatih mengerjakan soal-soal agar nilainya lebih bagus. Pada saat pengambilan raport tetap saja, rankingnya tidak berubah. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, di posisi paling akhir.

Suatu hari saya mencoba berangkat ke sekolah lebih awal. Tidak seperti hari-hari biasanya, saya berangkat saat embun masih menyapa di pagi hari.  Sesampainya di sekolahan, terlihat ada seorang siswa yang sudah bersiaga di depan sekolah. Ia adalah siswa yang selalu mendapat ranking terakhirsedang menunggu pintu yang masih belum terbuka.

Setelah itu diapun ikut membantu membuka pintu kelas. Tidak hanya itu, diapun sibuk ke sana kemari membersihkan ruang kelas sampai halaman. Bahkan membantu menata buku-buku perpustakaan agar lebih rapih.

Saat ada perlombaan voli tingkat kecamatan, diapun diikutkan. Tidak tanggung-tanggung dia sangat antusias dalam mengikuti latihan demi latihan yang diadakan sekolah. Pertandinganpun dimulai. Melihat permainan lawan-lawan yang lebih bagus. Anak-anakpun mulai tidak terkondisikan. Semangat dan mental meraka turun. Tidak terkecuali bagi anak yang satu ini. Sifat kedewasaannya tumbuh. Ia menjadi motivator bagi teman-temannya. Ia terus menyemangati teman-temannya agar selalu bangkit dan pantang menyerah.

Selepas ujian semester, seluruh orang tua siswa menerima rapor dari wali kelas masing-masing. Begitu juga dengan kelas 5. Pertama-tama anak tersebut dipanggil, kemudian diberitahukan bahwa ia mendapat ranking terakhir. Namun wali kelas itu mengatakan, ada satu hal aneh yang terjadi pada anaknya. Yaitu yang pertama saat ditanya soal cita-cita. Selanjutnya mengenai aktivitasnya di sekolah. Jarang-jarang ada siswa lain yang seperti itu.

Saat itulah saya memberi pujian baginya : “Kamulah si nomor wahid, suatu saat kamu pasti jadi pahlawan.” “Saya tidak mau jadi pahlawan. Saya hanya ingin bertepuk tangan di tepi jalan,” katanya membalas pujianku. Mungkin ia teringat pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan wali kelasnya. Bahwa ada sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat maka harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.

Sebagai wali kelas, saya terkejut mendengarnya. Ketika banyak anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun ia tidak ingin menjadi orang yang terlihat. Ibarat akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan. (Fajar Pujianto)

 

Sumber : anggunpaud.kemdikbud.go.id

COMMENTS