Memaksimalkan Perkembangan Empati Anak

Memaksimalkan Perkembangan Empati AnakIlustrasi | Foto: Istimewa

AnggunPaud – Jika menonton drama, sinerton, membaca buku, atau mendengarkan cerita, seseorang bisa ikut menangis, tertawa, ataupun merasa marah. Hal itu karena manusia memiliki rasa empati. Empati merupakan kemampuan memahami perasaan orang lain, meskipun tanpa harus terlibat kontak langsung.

Sebetulnya, sejak lahir manusia memiliki rasa empati. Salah satu buktinya adalah seorang bayi akan ikut menangis ketika mendengar bayi lain menangis. Para ahli telah menyatakan bahwa empati diturunkan secara genetik. Namun, sangat disarankan agar orang tua mengoptimalkan empati anak. Beberapa hal ini dapat dilakukan orang tua untuk mengoptimalkan empati anak.

Pertama, ajarkan empati dengan mengenalkan macam-macam emosi pada anak. Ketika anak sedang kesal, katakan “Kamu sedang kesal, ya?”. Ketika anak terlihat sedih, katakan “Kamu sedang sedih, ya?”, dan lain-lain. Hal itu akan membuat anak memahami emosinya sendiri. Anak yang memahami emosinya cenderung mudah menyesuaikan diri. Empati cenderung muncul dari anak yang memahami emosinya sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mengerti tentang emosinya sendiri cenderung mudah merasa depresi.

Kedua, hindari marah-marah kepada anak. Terlalu sering marah pada anak akan menimbulkan pemahaman yang sempit tentang emosi pada anak kita. Anak hanya memahami emosi berupa marah saja.

Ketiga, ajarkan anak bergaul dengan lingkungan sosialnya. Selain dapat membuatnya menjadi pribadi yang supel, bergaul dengan teman-temannya mendorong anak untuk peka terhadap situasi. Orang tua juga bisa mencontohkan aksi baik pada anak, seperti menolong orang lain, menyapa, memberikan pujian, mengucapkan terima kasih, menjenguk tetangga yang sakit, bersedekah dan perbuatan baik lainnya.

Keempat, bacakan karya sastra seperti dongeng pada anak. “Sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra” begitu kata Buya Hamka. Melalui para tokoh dan peristiwa dalam dongeng, secara tidak langsung anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan, anak belajar tentang bagaimana menghadapi ssebuah situasi, dan lain-lain.

Semakin banyak anak melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya, baik keluarga, teman, teman di sekolah, maka perkembangan emosinya menjadi semakin sempurna. Terlebih interaksi anak dengan orang tuanya. Semakin intens interaksi anak dengan orang tua, semakin terjalin positif bonding antar keduanya. Hubungan (bonding) yang kuat membuat anak mudah memahami nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya. Hal tersebut akan membuat anak memiliki empati yang baik.

 

Sumber : anggunpaud.kemdikbud.go.id

COMMENTS