Kiat Menangani Anak Agresif

Kiat Menangani Anak AgresifIlustrasi

SAHABAT KELUARGA – Menggigit, mencubit, memukul dan menendang temannya selalu dilakukan secara tiba–tiba oleh seorang anak bernama Akbar. Akbar memang suka marah tanpa alasan. Hal ini mengakibatkan Akbar ditakuti teman–temannya dan cenderung dikucilkan.

Setiap hari Akbar selalu dimarahi oleh ibunya. Dia dibentak, dipukul dan diperlakukan secara kasar. Ayahnya yang selalu melindunginya jarang bersama Akbar, karena ia bekerja di luar kota. Akbar beranggapan tidak ada yang peduli dengannya, terlebih ibunya yang selalu berbuat kasar padanya. Kejadian– kejadian yang dialaminya setiap hari tersimpan di hati Akbar.

Perasaan tertekan dan terluka yang diakibatkan oleh ibunya memicu Akbar cenderung meniru kekerasan yang dilakukan oleh ibunya. Ditambah lagi Akbar gemar menonton televisi yang cenderung menampilkan model-model kekerasan. Inikah yang menjadi penyebab perilaku agresi?

Perilaku agresi akibat kemarahan anak yang disebabkan rasa frustrasi. Ketika orang dewasa mengalami frustrasi, ia akan mencari teman sejawat atau keluarga untuk mencurahkan hatinya.

Akan tetapi anak usia dini seperti Akbar belum bisa melakukan hal seperti itu, sehingga ia melampiaskan kemarahannya  dengan melakukan tindakan agresi. Selain itu dengan tingkah laku agresi, Akbar juga mendapatkan kesenangan. Akan tetapi perilaku agresi juga dapat disebabkan adanya faktor kelebihan energi dalam diri anak.

Agresivitas merupakan bentuk tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal. Agresivitas pada anak usia dini yang tidak ditangani dengan benar, akan mengakibatkan perlakuan anti sosial yang akan menetap dan menimbulkan masalah baru dalam diri anak di masa perkembangan selanjutnya, seperti kenakalan remaja, putus sekolah, dan perilaku–perilaku negatif lainnya.

Mengingat pentingnya menangani agresivitas sejak dini, maka sebaiknya orang tua dan pendidik melakukan hal–hal sebagai berikut:

Pertama, menjalin komunikasi yang baik dengan anak, yang akan membantu anak untuk mengembangkan kepercayaan dirinya, harga dirinya dan hubungan–hubungan yang baik dengan orang lain.

Komunikasi yang membuat hidup bersama anak-anak menjadi lebih indah, yang membuat mereka berkembang menjadi pribadi yang memiliki perasaan yang baik atas dirinya sendiri dan juga kepada orang lain .

Kedua, memberikan kesempatan pada anak dalam pembelajaran kerjasama, karena hal itu akan melatih anak tentang keterampilan sosial. Pembelajaran kerjasama dapat dilakukan dengan berbagai macam permainan sosial, seperti permainan estafet air, mencari pasangan puzzle dan lain sebagainya.

Ketiga, memberikan hadiah (reward) untuk perlakuan positif seperti ketika anak tidak lagi memukul temannya, maka anak diberi cap bintang pada tangannya dan hukuman (punishment) pada perlakuan negatif, seperti anak kembali memukul temannya. Maka hukumannya, anak tidak mendapatkan cap bintang di tangannya.

Keempat, menciptakan lingkungan yang nyaman dan dapat memberikan keleluasaan pada anak untuk beraktivitas selama proses pembelajaran, seperti penerapan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif , Efektif dan Menyenangkan).

Jadi, sebelum terjadi banyak korban dari tindakan agresivitas,  sebaiknya para orang tua dan pendidik, segera menangani ketika tindakan agresi terlihat pada diri anak, baik di rumah ataupun di sekolah. Hal itupun tidak lepas dari kerjasama antara orang tua dan pendidik. (Yuli Kismawati, Guru dan Kepala Sekolah Kelompok Bermain (KB) Argowilis, Guru KB Qothrun Nada, operator sekolah dan pegiat literasi, Sokawera , Cilongok, Banyumas)

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS