HINDARI MEMBERI ‘LABEL’ ANAK

HINDARI MEMBERI ‘LABEL’ ANAKIlustrasi

Pernahkah Anda mendengar, melihat atau bahkan menjadi pelaku aktivitas labeling, misalnya dengan mengatakan “dasar anak bodoh”, “anak nakal”, atau “tukang bohong” pada anak Anda atau mungkin anak-anak kecil yang ada di sekeliling Anda? Jika ¨Ya¨, artinya Anda perlu lebih banyak memahami pengaruh label tersebut pada perkembangan kepribadiannya.
Sebenarnya apa sih labeling?

Mengacu pada sebuah definisi, label adalah suatu kata atau kalimat yang ditujukan untuk menggambarkan tentang keadaan seseorang terkait dengan perilaku, keadaan fisik atau keadaan intelektual.Di kehidupan sosial kita memberikan julukan/cap (labeling) merupakan hal yang dianggap wajar. Masyarakat sudah terbiasa untuk memberikan label pada seseorang, tanpa memahami kondisi orang atau anak seutuhnya.

Pengaruh labeling pada perkembangan anak

Label negatif yang diberikan pada anak secara berulang-ulang, akan mengusik kepercayaan diri, harga diri dan konsep dirinya. Ia akan memandang dirinya sebagaimana yang orang lain pikirkan, apalagi jika ia menerima label tersebut dari orangtuanya sendiri. Anak akan yakin 100% bahwa apa yang disampaikan orangtua tentang dirinya adalah benar, sehingga mempengaruhi perilakunya. Anak yang diberi label akan merasa ketakutan menjadi bahan ejekan, sehingga lebih cenderung menyendiri, akibatnya ia kurang terampil untuk bersosialisasi dengan orang lain. Ada kemungkinan juga, anak dapat tertekan oleh label-label tersebut dan pada akhirnya depresi.

Pemberian label negatif pada anak juga akan mengabaikan potensi yang ada pada anak. Misalnya saja ketika orangtua mengatakan “anak bodoh”, maka anak akan menyesuaikan dirinya dengan label tersebut sehingga tidak memiliki motivasi mengeksplorasi kemampuannya yang lain seperti kreativitasnya.

Pada kasus lain, pemberian label juga akan mempengaruhi bagaimana orangtua memberikan stimulasi atau rangsangan belajar pada anak. Ketika orangtua memberikan label “anak bodoh”, maka orangtua akan memberikan tugas-tugas yang sangat sederhana dan kurang menantang kemampuan anak. Hal tersebut terjadi karena orangtua akan berpikir “pasti kalau diberikan tugas yang agak sulit, anak saya tidak akan bisa”.

Label positif pun perlu diwaspadai

Namun, tak berarti kata-kata yang bermakna positif, seperti pintar, cantik, cakep, dan sejenisnya boleh diobral. Karena dampaknya pun sama tidak baiknya. Selain membuat anak jadi sombong atau angkuh, tidak menghargai orang lain, ia pun tak bisa menerima kekurangan dan kelemahan dirinya. Semisal, karena anak sering dipuji pintar, saat mendapat nilai buruk di satu mata pelajaran ia tidak bisa menerima. Akibatnya bukan tak mungkin anak gampang frustrasi dan tak memiliki kepercayaan diri.

Bagaimana sebaiknya?

Yang terbaik, berikan pujian sesuai tingkah laku anak. Jika anak memang memiliki perilaku positif, semisal mau berbagi, pujilah perilakunya itu saja. “Ayah senang Kakak mau meminjamkan Spiderman-mu ke Adik.” Sebaliknya, bila anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan, tegurlah dengan lembut dan jelaskan bahwa perilakunya itu salah. Contoh, anak terlihat menjahili kucing, jangan lantas berujar, “Adek, kok nakal banget, sih!” Akan tetapi, katakan, “Adek, kucingnya jangan dipukul. Kasihan, dia kesakitan, tuh.” Dengan begitu, anak tahu memukul binatang adalah perbuatan salah.

Sumber: 
– lifestyle.kompas.com
– anakku.net

COMMENTS