Hati-Hati, Asap Rokok Bisa Sebabkan Leukimia Pada Anak

Hati-Hati, Asap Rokok Bisa Sebabkan Leukimia Pada AnakIDN Times/Sukma Shakti

Jakarta, IDN Times – Tak hanya ibu hamil, bayi pun dapat terserang bermacam penyakit jika dibiarkan menghirup asap rokok. Kasubdit Penyakit Paru Kronis dan Gangguan Imunologi Kemenrerian Kesehatan (Kemenkes) Theresia Sandra mengatakan bayi yang dibiarkan terpapar asap rokok dapat menyebabkan kemampuan berpikir berkurang.

“Dari Fakultas Kedokteran UI pernah ada kajian tentang stunting dan rokok. Anak yang terlahir dari keluarga perokok aktif itu cenderung tinggi badannya lebih rendah. Memang belum tentu berhubungan langsung. Tetapi misal bapaknya merokok, kalau gak punya uang ya dikurangin dong jatah makanan sehat untuk keluarga. Akibatnya apa? Anaknya jadi stunting,” ujar Sandra kepada IDN Times.

Selain itu, kata Sandra, kemampuan berpikir logis anak yang sering terpapar asap rokok cenderung menurun dibandingkan anak yang tak pernah terpapar asap rokok. Anak juga dapat mengalami kelainan perilaku. “Pokoknya akan berpengaruh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Orangtua perlu waspada,” tuturnya

1. Anak bisa mengalami kelainan fisik

IDN Times/Sukma Shakti

Menurut Sandra, bayi yang terus-menerus terpapar asap rokok bisa mengalami kelainan pada telinga, seperti tuli dan kemampuan pendengaran rendah. Selain itu, kemungkinan terserang pneumonia (infeksi saluran pernapasan) juga tinggi.

“Karena dia paru-parunya terpapar asap rokok sehingga gak menerima udara dengan baik. Lalu bisa mengalalami luka-luka kecil dan infeksi tinggi, asma, dan bronkitis. Kalau dia batuk dan pilek terus bapaknya merokok, ya, tambah kacau. Daya tahan tubuhnya bisa turun dan kemungkinan infeksi bakteri tinggi,” ujar Sandra.

2. Leukimia juga disebabkan oleh asap rokok

jigsy.com

Bahkan, anak yang terpapar asap rokok juga memiliki kemungkinan terserang kanker leukimia. Seperti diketahui, rokok dapat menyebabkan kanker, sementara kanker leukimia paling banyak menyerang anak-anak

“Anak zaman sekarang kan kena penyakit aneh-aneh. Selain nikotin yang menyebabkan kemampuan berpikir, ada 7000 zat kimia yang masuk tubuh, 69 lainnya bisa menyebabkan kanker. Ada mutasi gen di salah satu organ yang paling ringkih dalam tubuh,” jelas Sandra.

3. Kemenkes mendorong kawasan tanpa rokok

theguardian.com

Kemenkes saat ini sedang mendorong masyarakat di tingkat RT/RW untuk menerapkan kawasan tanpa rokok. Salah satu wilayah yang patut dicontoh adalah permukiman warga di bantaran kali, Kampung Penas Tanggul, Jalan Pancawarga 30, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Di permukiman tersebut, warga menerapkan kawasan tanpa rokok.

“Di rumah-rumah gak boleh ada orang yang merokok. Kalau mau merokok dikasih tempat di satu tempat khusus. Efeknya, lama-lama mereka berhenti merokok. Akhirnya sadar, kasihan sama anak. Dari pada merokok mending kasih makan anak. Ini yang kami dorong untuk membuat kawasan tanpa rokok di dalam keluarga. Merokok boleh, tapi jangan anak-anaknya dianiaya (dibiarkan menghirup asap rokok),” kata Sandra.

Senada dengan Sandra, Dokter Spesialis Anak Meta Hanindita menyatakan, paparan asap rokok memiliki dampak yang akan berlanjut hingga dewasa. Asap rokok yang terhirup ibu hamil berdampak pada janin seperti risiko melahirkan prematur, bayi berat lahir rendah, serta kelainan susunan saraf pusat.

“Di kemudian hari setelah lahir, dampaknya bisa berupa gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual, serta gangguan pada perilaku. Tak hanya itu, anak yang menjadi perokok pasif menjadi lebih rentan mengeluhkan batuk lama, menderita sakit radang paru, dan asma,” kata Meta.

Meta pun mengimbau siapa pun untuk tidak sungkan menegur orang yang merokok di sekitar bayi atau ibu hamil. Menurut dia, peraturan yang diterapkan pemerintah sudah cukup baik, namun terkadang tidak ada evaluasi di lapangan.

“Contoh paling gampang deh, biasanya di tempat umum sudah ada larangan merokok. Tapi toh ya nyatanya, selalu saja masih ada yang merokok. Herannya lagi, tidak ada sanksi yang diberikan untuk orang-orang ini,” tutur Meta.

 

Sumber: idntimes.com

COMMENTS