Awasi tapi Hargai Privasi Anak di Medsos

Awasi tapi Hargai Privasi Anak di MedsosIlustrasi

Apakah Anda takut atau khawatir bila anak remaja Anda, terutama remaja putri terlena dalam media sosial dan menjadi korban tindakan ‘pembullyan ’ atau kekerasan verbal yang dilontarkan teman atau bahkan ‘strangers’ yaitu orang asing?

Apa yang harus dilakukan Anda sebagai orangtua? Ada banyak pakar osikolog yang memberi himbauan agar orang tua mengawasi kebiasaan anak dalam aktivitasnya di media sosial. Salah satunya, ikut aktif di media sosial, dan menjadi teman anak remajanya.

Tapi, apakah itu tepat? Menurut Melly Kiong, penulis beberapa buku parenting, orang tua hanya sebatas tahu saja, siapa teman-teman dari anaknya yang sering berhubungan dan apa saja yang dipercakapkan. .

“Sangat boleh, sekedar tahu aja. Tapi tidak boleh terlalu masuk ke dalamnya. Kita harus menghargai privasi anak,” ujarnya  dalam acara seminar Mindful Parenting yang diadakan oleh Gramedia Academy dengan tema ‘Pola asuh berkesadaran pada anak yang memasuki masa remaja’ pada Kamis (26/1/2017) kemarin seperti yang dikutip dari Tribun Jabar.

Menurutnya, ketika masuk menjadi teman anak remajanya di dunia maya, orang tua tentu dapat dengan mudah memantau interaksi anaknya. Namun, hal ini akan membuat ibu menjadi mudah protes di media sosial saat sang anak mendapat komentar pedas dari salah satu followersnya. Sikap jiwa besar seorang ibu tentu diperlukan ketika kita melihat komentar tak enak tentang anak kita.

“Sebaiknya, Kita ajak anak kita untuk diskusi dan jangan kita balas di sosmed juga, jangan marahin anak kita, jangan juga kita larang anak main sama temennya. Tetapi kita berikan anak kita lagi-lagi untuk berfikir. Baik tidaknya, boleh atau tidak boleh. Memang anak jadi lebih berhati-hati dengan adanya orangtua dimedia sosial kita,” katanya. Yanuar Jatnika

Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

COMMENTS